Konsep Merdeka Belajar dan Pentingnya Kemampuan Memetakan Dunia Kerja

  • Hafid STAI Al-Hamidiyah Bangkalan
Keywords: Konsep merdeka belajar, kemampuan memetakan dunia kerja, era industry 4.0

Abstract

Artikel ini membahas tentang penerapan konsep merdeka belajar dalam dunia pendidikan. Merdeka belajar menawarkan sebuah kemerdekaan dan keleluasaan kepada lembaga pendidikan untuk mengeksplorasi potensi siswa secara maksimal dengan menyesuaikan minat, bakat serta kecendrungannya. Setelah segala potensi yang dimiliki oleh siswa tereksplorasi dengan maksimal diharapkan siswa mendapatkan kemampuan dan keterampilan yang dapat digunakan dalam menghadapi tantangan globalisasi ekonomi, sosial, teknis dan lingkungan di era industri 4.0. Guru harus mampu menjadi fasilitator bagi siswanya dalam menerapkan konsep merdeka belajar, sehingga siswa mampu menyelesaikan masalah dan dapat memetakan dunia kerja pasca lulus dari lembaga pendidikannya. Ada beberapa tahapan langkah yang harus dilakukan siswa dalam menyelesaikan masalah, antara lain; 1) membaca sebuah permasalahan, 2) mengembangkan informasi, 3) memilih strategi, 4) menyelesaikan masalah, 5) memeriksa kembali dan meluaskan kajiannya. Tulisan ini, mengaitkan konsep merdeka belajar dengan kemampuan memetakan dunia kerja yang perlu dimiliki oleh guru saat melakukan fasilitasi dan dimiliki siswa sebelum lulus sekolah. Adapaun metode dalam mengkaji hubungan dua variabel ini, memakai metode kualitatif dengan pendekatan pendekatan kajian library research.

References

Abraham,H Maslow, Motivation and personality, (USA: Harper and Row Publication, 1970)
A. Suryadi, Jurnal Studi Tentang Kebiasaan Belajar Mahasiswa, (UT-UPBJJ Bandung: Januari 2004 Tahun Ke-10 No.46A)
Badan Pusat Statistik. 2012. Kuisioner Survey Angkatan Kerja Nasional 2019.
Hatta Saputra, Pengembangan Mutu Pendidikan Menuju Era Global: Penguatan Mutu Pembelajaran dengan Penerapan HOTS (High Order Thinking Skills), (Bandung: SMILE’s Publishing, 2016)
HR. Bukhari. Hadits nomor 8647
Gaggioti, H. “Going from Spain and Latin America to Central Asia: decision-making of expatriation and meaning of work”, (The Central Asia Business Journal.V. 1. (1), pp. 8-22, 2006)
Gutek, G. L., Philosofical Alternatives in Education, (Loyala University of Chaniago, 1997)
Koeswara, E. Logoterapi Psikoterapi Viktor Frankl, (Yogyakarta: Kanisius, 1992)
Krulik, S., & Rudnick, J. A. Innovative Tasks to Improve Critical and Creative Thinking Skills, (Developing Mathematical reasoning in Grades K-12, 1999)
McClelland, D.C., Human Motivation, (New York : Cambridge University Press.McClelland, 1987)
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung; Remadja Rosda 1995)
Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan, (Bandung: PT Refika Aditama, 2011)
Muniri, Menemukan Jati Diri dengan Bertauhid, (Surabaya: Pustaka Media Guru, 2019)

Muhammad Yahya, Era Industri 4.0: Tantangan dan Peluang Perkembangan Pendidikan Kejuruan Indonesia, disampaikan pada Sidang Terbuka Luar Biasa Senat Universitas Negeri Makassar, Pada Tanggal 14 Maret 2018
QS. Al-Qashash [28]: 77
Shasta Devanto Pratomo, Fenomena Pengangguran Terdidik di Indonesia. (Universitas Brawijaya, 2017)
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Salatiga IKIP UKSW(2003) 83
Sutomo, AM Susilo, Lies Susanti. Analisis Pengangguran Tenaga Kerja Terdidik di Kotamadya Surakarta (Pendekatan Search Theory). Edisi Januari-Maret 1999. Perspektif: FE UNS.
Tony Buzan, The Ultimate Book Of Mind Mapp, Terj. (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2005)
The Liang Gie, Ensiklopedia Administrasi, (Jakarta: Gunung Agung, 1998)
Published
2020-12-30
Section
Articles