Adab dan Urgensi Khiṭbah pada Era Kontemporer: Kajian Tafsir Fiqh dalam Surat Al-Baqarah [2]: 235

  • Fathonah K. Daud IAI Al Hikmah Tuban
  • Muniri STAI Al-Hamidiyah Bangkalan
Keywords: khiṭbah, Adab, al-Baqarah [2]: 235

Abstract

Sudah menjadi tradisi di mana-mana bahwa sebelum pernikahan terdapat pertunangan terlebih dahulu. Pertunangan atau disebut khibah itu sendiri sebagai masa perkenalan antara kedua calon ataupun masa persiapan untuk menuju mahligai rumah tangga. Ajaran khibah dalam Islam sarat hikmah. Syariat khibah telah dijelaskan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah: 235. Tetapi di era kontemporer ini masih banyak masyarakat yang kurang memahami makna dan adab dalam syariat khibah bahkan. Sebagian masyarakat Islam ada yang memahami khibah (seolah-olah) seperti makna pernikahan, yang membolehkan berpegang-pegangan dan apa saja bagi calon laki-laki dan calon perempuan. Bagaimanapun khibah tidak akan dapat memberikan  hak  apa-apa  kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi lelaki lain untuk meminang calon pendampingnya. Perkembangan tradisi khiṭbah mengalir normal berabad-abad hingga hari ini. Justru ada perspektif berbeda bahwa dengan (keluarga) perempuan mendatangi si lelaki untuk diminta persetujuannya menjadi menantunya atau menikahi putrinya itu dipandang baik saja, lumrah dan tidak melanggar tatasusila adat yang berlaku. Tulisan ini akan menguraikan kandungan al-Qur’an dalam surat al-Baqarah [2]: 235 dalam perspektif fiqh, termasuk keutamaan, adab dan larangan-larangan dalam pertunangan.

References

Al-Qur’an al-Karim
Al-Jaziry, ‘Abd al-Rahman, 1990, Kitâb al-fiqh ‘Alâ al-Madzâhib al-Arba’ah (Bairut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah), Jil. 4.
Al-Mawardî, t.th., al-Hâwî al-Kabîr, (Beirut: Dâr al-Fikr) jil. 9.
Al-Qurtubi, Abu ‘Abdillah Muhammad, 1999, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, (Beirut: Dar al-Fikr), jil. V, cet. 1.
Al-Ramly, Syamsuddin, Nihâyah al-Muhtâj Ilâ Syarḥ al-Minhâj, (Bairut: Dâr al-Kutub al-Ilmiyah), jil. 6.
Al-Zuhayli, Wahbah, 1989. Al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-fikr), cet. III.
Departemen Agama RI Dirjen Bimbingan Islam, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta:1999/2000), bab peminangan dalam pasal 1, 11, 12, dan 13.
Jawwad Ali, 2019, Sejarah Arab Sebelum Islam, (Jakarta: Alvabet).
Haifa A. Jawad, 2002, Otentisitas Hak-Hak Perempuan,(Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru), 1
Hamka, 2015, Tafsir Al-Azhar, (Jakarta: Gema Insani), jil.1.
K. Daud, Fathonah, 2020, Tasir Ayat-Ayat Hukum Keluarga 1, (Yogyakarta: Desanta Muliavisitama).
Lajnah Pentashihan Mushab al Qur’an KEMENAG RI, 2017, Tafsir Al-Qur’an Tematik, jilid 3 (edisi revisi), cet. Ke-4
M. Quraish Shihab, 2006, Tafsir Al-Misbah, (Tangerang: Lentera Hati, 2006), Cet. V, Vol. 1.
Muthahhari, Murtada. 2012, Filsafat Perempuan dalam Islam; Hak Perempuan dan Relevansi Etika Sosia.l terj, Arif Mulyadi. (Yogyakarta: Rausyan Fikr Institute). Cet. I.
Muthahhari, Murtada, 2000, Hak-hak Wanita dalam Islam, (Jakarta: Lentera Basritama), cet ke-6.
Sa’îd Ḥawa, 1993, Al-Asâs fi al-Tafsîr, (Cairo: Dâr al-Salam), jil. 1.
Tim Kementerian Perwakafan dan Keislaman, 1427 H., al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, (Kuwait: Dâr al-Salasil) cet. II, Jil. 19.
Published
2020-06-30
Section
Articles