Melacak Pembentukan Prinsip-Prinsip Hidup Komunitas Blatēr dan Justifikasi dalam Ajaran Agama Islam

  • Muniri
Keywords: Komunitas Blatér, Interaksi Sosial, Islam

Abstract

Pada tahapan-tahapan pembentukan prinsip hidup komunitas Blatér, yang meliputi ketauhidan, hormat kepada Embho’ (Ibu), hormat kepada ghuru (Guru), ajhegeh téngka (menjaga etika), dan ajhegeh harga diri. Lima prinsip hidup Blatér ini, dimapankan dalam berbagai kesempatan, utamanya dalam momentum remoh. Remoh menjadi momentum ideal dalam menyesuaikan diri antara Blatér satu dengan Blatér lainnya. Modal imitasi yang didapatkan dari lingkungan terdekat tentang kosakata dan kehidupan Blatér, melahirkan proses sugesti pengalaman kebelatēran kepada dirinya. Dari sugesti ini, berlanjut pada proses identifikasi diri dengan karakteristik Blatēr, hingga pada upaya menemukan figur penting yang dijadikan rujukan dalam sepak terjangnya di dunia kebelatēran. Adapun bahasan tentang lima prinsip hidup komunitas Blatēr ditinjau dari ajaran agama Islam, ternyata hanya empat prinsip hidup, yaitu ketauhidan, hormat kepada Embho’ (Ibu), hormat kepada ghuru (Guru), ajhegeh téngka (menjaga etika), yang ada justifikasinya dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits, sedangkan yang satu lagi; yaitu ajhegeh harga diri tidak ada justifikasinya dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

References

Abraham H Maslow, Motivation and personality, (USA: Harper and Row Publication, 1970)

Abu Ahmadi, Psikologi Sosial, (Semarang: Rineka Cipta, 2007)

Abdur Rozaki, Islam, Oligarki Politik, dan Perlawanan Sosial, (Yogyakarta: SUKA Press, 2016)

Budi Hardiman, Seni Memahami: Hermeneutik dan Schleiermacher sampai Derrida, (Yogyakarta: Kanisius, 2015)

Latief Wiyata, Carok; Konflik Kekerasaan dan Harga Diri Orang Madura, (Yogyakarta: LKIS, 2002)

-----------------, Madura yang Patuh?; Kajian Antropologi Mengenai Budaya Madura, (Jakarta: CERIC-FISIP UI, 2003)

Muniri, Titik Temu Pandangan Hidup Kalangan Blatĕr dan Pemikiran Murjiah. Jurnal Al-Fikrah. 2020

--------, Fatwa MUI dan Implikasinya Terhadap Hubungan Agama – Negara; Studi Power/Knowledge Michel Foucault Atas Fatwa MUI Tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekulerisme Agama. Skripsi. Fak. Syariah, Jurusan Siyasah Jinayah, IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2008.

--------, KH. Asy’ari Umar; Ulama Mandiri Pengokoh Tradisi, (Surabaya: Imtiyas, 2012), 16-18

M. Budyatna dan Leila MG, Teori Komunikasi Antar Pribadi, (Jakarta: Kencana, 2011)

Moeslim Abdurrahman Wahid, Islam sebagai Kritik Sosial, (Jakarta: Erlanga, 2003)

Muhammad Ibn Alawi Al-Maliki, Mafahim Yajibu ‘an Tusahha, (Dubai: Dairah al-Awqaf wa al-Shu’un al-Islamiyyah, 1995)

Mien Ahmad Rifai, Manusia Madura; Pembawaan, Perilaku, Etos Kerja, Penampilan, dan Pandangan Hidupnya seperti Dicitrakan Peribahasanya,(Yogyakarta, Pilar Media, 2007)
Modul Pendidikan Kedamaian Berbasis Pesantren Tahun 2006 di Hotel Madinah Pamekasan.

https://id.wikipedia.org/wiki/Simpati, mengutip dari Tear, J; Michalska, KJ (2010). "Neurodevelopmental changes in the circuits underlying empathy and sympathy from childhood to adulthood". Developmental Science. 13 (6)

https://blog.bhiruhdheun.com/aneka-pribahasa-madura-etos-kerja-dan-hubungan-sosial/

Ridwan Ahmad Sukri, Konsep Bapa’, Babu, Guru, Rato pada Masyarakat Madura Sebagai Wujud Pengamalan Sila ke-2 Pancasila, Jurnal Filsafat, edisi ke-30. Oktober 1999.

Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Pers, 2012)

Wahbah Zuhaily, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa as-Syari’ah wa al-Manhaj, Jilid I (Damsik: Dar Al-Fikr, 2009)

Refensi dari Al-Qur’an dan Al-Hadits:
 QS. Al-Isra: 23
 QS. Al Isra: 33
 HR. Anas bin Malik
 HR. Bukhari
 HR. Al-Bazzar
 HR. Bukhari-Muslim
 HR. Imam Muslim.
 HR. Abu Daud
Published
2021-06-30
Section
Articles